Rabu, 24 Juli 2013

Pertemuan singkat yang merubah segalanya.

Malam itu,adalah pertemuan yang tidak sengaja antara aku dan dia.
Dalam diamku yang shock karna kejadian beberapa menit yang lalu,aku menemukan sepasang mata,mata yang benar-benar bisa membuat hati menjadi begitu tenang.Ya,mata itu miliknya.
Ketakutanku hilang setelah menatap mata yang memancarkan ketenangan itu,terlebih lagi melihat senyum itu.Senyum tulus yang sangat manis,senyum bak milik malaikat yang pernah ku lihat dalam mimpiku.
"kamu gak apa-apa kan?everything's gonna be oke,jangan takut lagi ya..." Suaranya begitu merdu di telingaku,tanpa bahasa aku hanya membalas ucapannya dengan senyuman.
"Aku pamit ya,ada urusan di tempat lain.Hati-hati di jalan ya,aku pastikan orang-orang itu gak akan ganggu kamu lagi kok" 
Dia pamit,sebelumnya kurasakan tangannya mengelus pipi kananku.Aku masih diam,diam seribu bahasa.Aku berjalan menuju tempat kostku yang hanya berjarak 1 meter lagi.Masih dalam keadaan diam kini aku terduduk di kursi teras rumahku.
Aku masih sibuk mengingat-ingat kejadian yang tadi menimpaku.Siapa laki-laki itu?malaikat kah dia?bak pahlawan dalam cerita-cerita fiksi dia menghajar preman-preman yang tadi menggangguku.
Aku begitu suka menatap matanya,aku suka menikmati senyumnya dalam diam dan terlebih lagi aku begitu suka mendengarkan suaranya.
"Begok!tadi kenapa gak nanya namanya?bilang makasih aja enggak!yaampun Mora,oon banget sih!!!" 
Aku tersadar dari diamku dan aku baru sadar selain tidak menanyakan namanya tadi aku juga tidak mengucapkan "terimakasih",Kini aku sibuk menyalahkan diriku atas ke tololan yang aku buat.Memang susah jika kamu punya otak yang.......pelupa! 
"wey!ngapain lo diem di sini?baru pulang apa baru mau keluar?gilak!ini udah jam 10,mau jual diri lo?" 
Dengan suaranya yang lantang dan omongannya yang ceplas-ceplos Dewi datang.Dewi memang selalu begini berbicara tanpa menggunakan kosa kata yang benar dan jelas!
Tapi seperti biasa,aku tidak menggubris omongan Dewi teman kostku yang sompral ini kalo ngomong,aku hanya tersenyum,sama seperti tadi saat laki-laki itu bertanya padaku.
"Yeh ini anak ditanya malah senyum-senyum doang.Sinting kali ya?gue masuk duluan ah,hati-hati kesambet lo bengong-bengong malem-melem gini,hih......."
Aku memang bukanlah anak kost yang pemberani.jadi,begitu mendengar ucapan Dewi tadi rasa takut dan merinding seperti langsung melingkariku,hih....memang menyeramkan suasana rumah ini kalau sudah malam hari.
Singkat cerita.....
Pertemuan kami tidak terjadi hanya hari itu saja tapi beberapa kali dan dalam konsidi yang berbeda,ibarat pahlawan,dia selalu ada saat aku butuhkan tanpa aku minta.
Aku ingat,Kala itu...
Aku berjalan dalam lemah menuju tempat kostku,hari itu banyak sekali aktifitasku di kampus,sebenarnya masih ada beberapa paper yang harus aku buat tapi aku izin karna tubuhku sepetinya sangat perlu istirahat.
Hari itu sepertinya mentari sangat semangat untuk menyinari bumi oleh karna itu aku memilih berjalan di taman agar panas mentari kala itu tidak langsung menyengat kulitku,tapi tiba-tiba "Brukkkkk" aku terjatuh.Beginilah aku yang ceroboh,seharipun tidak terhindar dari kesialan.Pergelangan kaki kananku terasa sakit dan sangat nyeri.Jangankan untuk berjalan berdiripun susah rasanya,aku rasa kakiku terkilir.Aku masih sibuk dengan rasa sakit tak terasa air mata mengalir di pipiku.Ya,aku menangis.
"kenapa duduk disini?nangis lagi...."
Suara itu....aku kenal suara itu dan ketika aku menengadahkan kepalaku ternyata benar itu dia!Aku hanya bisa tersenyum lagi-lagi-lagi dan lagi ketika bertemu dengannya.
"Jangan selalu tersenyum seperti semuanya baik-baik saja neng,kamu selalu kayak gini kalo kita ketemu"
"Maaf ya,selalu merepotkan kamu setiap kali kita ketemu,eh tapi ini bukan kesengajaan loh.Tapi aku bingung ya,kenapa selalu kamu yang nolong aku?kamu malaikat kiriman Tuhan untuk aku ya??"
"hahahahahaha"
Dia tertawa setelah mendengar pertanyaan konyolku tadi,memang konyol sih masa aku mengiranya malaikat?duh malu deh...penyesalan memang selalu datang di akhir ya......
"kok ketawa?aku kan cuma nanya kali"
"lagian pertanyaanmu itu aneh,masa aku dibilang malaikat,gak salah tuh?hahahaha"
Masih dalam tawanya dia malah menyebutku aneh.Kalau kakiku ini tidak sakit mungkin aku sudah pergi dari tadi,Malu.
"ya terus?kamu kenapa selalu nolong aku?"
"Semua cuma kebetulan aja kok,aku ya kebetulan aja lewat sini terus liat kamu jatoh,ya aku samperin lagian kan kasian di taman ini lagi sepi gak ada yang bantuin kamu jadinya."
Kani posisinya menyamai posisiku.Dia ada tepat di depanku.Sekarangtidak ada jarak diantara kami.Aku bisa melihat matanya,hidungnya,rambutnya,wajahnya dari dekat,bahkan wangi tubuhnya sangat tercium.Dari wanginya aku bisa menebak kalau dia adalah laki-laki yang rapih.
"Aku gak akan jahat kok,jangan liatin aku seakan-akan aku ini mau culik kamu dong"
Rupanya sedari tadi pemilik wajah yang sedang menjadi obyek mataku ini sadar kalau wajahnya sedang aku amati,tapi dia salah.Aku menatapnya penuh kebahagiaan bukan kecurigaan.
"Jadi,apa yang sakit nona manis?"
Mendengarnya yang memanggilku "non manis" tadi rasanya semua kebahagiaan yang tadinya semu menjadi nyata.Aku ikhlas tertiban sial setiap harinya asal selalu dia yang menolongku,aku rela selalu dibuat malu olehnya kalau dia juga yang bisa membangun kebahagiaan untukku.
"Eh maaf bengong lagi.Ini kaki aku pergelangannya sakit banget,kayaknya terkilir deh.Gara-gara wedges sialan ini nih.Aku selalu sial deh menggunakan sepatu ini.Bad day!"
Sejujurnya ini tidak terlalu Bad-day untukku karna dengan bertemu dengan dia,semua terasa membaik.Dalam diamku aku berdoa semoga kamu benar-benar berada di setiap hariku.Semoga suasana hatiku yang riang ini bukan hanya untuk hari ini.
"Coba pindah duduk di kursi itu yu,kalo duduk disini gak enak.nanti baju kamu kotor,aku juga capek jongkok"
Aku hanya tersenyum,dia membantuku untuk berdiri.Tangan kanannya melingkar di pinggangku dan tangan kirinya memegang tanganku.Kami begitu dekat bahkan desah napasnya dapat aku rasakan,tangannya sangat hangat.Aku berharap waktu bisa berhenti sekarang juga atau berdetak lebih pelan agar aku bisa lebih lama berada dalam genggamannya dan pelukannya!.
"Sini duduk!awas pelan-pelan,coba sini aku pijet ya kakiknya"
"eh yaampun gak usah,ini paling dilurusin aja juga bisa normal lg kok,gak usah repot-repot"
"Bentar lagi normal gimana?itu aja bengkak!aku liat dulu ya."
Aku sudah menahannya tapi ini adalah inginnya.
"oiya aku kasih tau nih ya,sial itu gak ada!mungkin kamunya aja yang kurang hati-hati.Terus jangan pernah bilang hari itu buruk,karna sebenarnya semua hari itu baik.Kamu ini kaya abg labil ajadeh.....makanya kalo keluar rumah tuh baca bismillah dulu ya"
Mendengar penjelasannya tadi sepertinya rasa kagumku padanya semakin bertambah.Ternyata selain baik dia juga bijak terlebih lagi parasnya yang menawan.Ketampanannya menurutku lebih dari laki-laki lain.Berbahagialah wanita yang berjodoh dengannya nanti dan aku berdoa pada Tuhan semoga wanita yang beruntung itu adalah aku.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri kayak gitu?mikirin apa hayoooo?mikirin berjodoh sama aku yaaaaa?"
Ternyata bukan hanya aku yang suka memperhatikannya,dia juga.Sudah 2 kali aku tertangkap basah ketika sedang senyum-senyum memperhatikannya.Dan yang lebih membuat pipiku menjadi meerah padam dia tau kalau aku memikirkan aku&dia yang saling berjodoh.hihihihihi.
"Ah siapa yang senyum-senyum orang aku lagi nahan sakit kaki aku ini ko,wuuuu"
"ih ko melet-melet gitu sih,lucu deh kayak anak kecil deh kamu.Walaupun lagi nahan sakit senyum kamu manis juga ya ternyata."
Oh my God.Aku kini serasa sudah terbang entah kemana mendengar ucapannya tadi.Rasanya kaki ini sudah tak memijak bumi,inginku meraih tanggannya dan mengajaknya terbang berasamaku keawan.Sungguh perasaan yang membahagiakan!
"oh iya,udah sore nih.Mau aku antar pulang?" tanyanya.
"Gak usah,ini aja udah ngerepotin banget.Kaku aku juga udah lebih enakan kok,lagian kostan aku deket ko,cuma 2 blok lagi dari sini."
"yakin nih?"
"yakin!kamu ini kayak babysiter aku aja deh hahaha"
"yeh aku kan cuma khawatir aja,aku kan orang terakhir yang ketemu kamu hari ini nanti kalo tiba-tiba dijalan kamu kenapa-kenapa mereka nyalahin aku gimana?"
"pikiranmu terlalu jauh,yaudah aku duluan ya"
"yaudah hati-hati ya"
Aku mencoba berdiri namun kakiku belum mampu,dia yang masih disampingku dengan sigap langsung menangkap tubuhku.Kejadian yang sama terjadi lagi,dia meraih tanganku dan melilitkan tangan yang satunya di pinggangku.Ini bukanlah caraku untuk terus berdekatan dengannya,hanya saja kakiku memang masih sulit untuk digerakan apalagi untuk menopang tubuhku.
"Tuhkan,kaki kamu tuh gak baik-baik aja.udah gausah ngeyel,aku antar pulang ya!ini perintah bukan pertanyaan"
Aku tertunduk lemah,lagi-lagi air mataku meluncur mulus dipipiku.
"Jangan nangis,aku ikhlas kok nganter kamu gak ngerasa di repotin,suer deh!Tenang aja aku gak minta imbalan apapun kok atau aku gak bakal bawa kamu kemana-mana kok,aku parkir mobilku disana,agak jauh sih.mau naik mobil aja atau aku gendong?aku gendong ajadeh ya biar lebih cepet." Belum ku jawab pertanyaannya dia langsung jongkok membelakangiku dan menyuruhku naik di pundaknya.
"Ta...tapi..."
"Udah ayo naik,nanti hari keburu gelao nih kalo nungguin kamu mikir dulu"
"bener nih?aku berat loh,gausah deh"
"tenang aja aku kuat kok"
Kini aku berada dalam gendongannya.Ini manis,kita yang bahkan belum tau nama masing-masing menjadi sedekat ini.
Memang benar,cinta datang bisa dimana saja tanpa alasan dan pada siapa saja,termasuk padaku.Kami sangat dekat.Aku bahkan bisa merasakan degupan jantungnya.Tapi aneh,suaranya agak sedikit lemah.Mungkin dia sedikit lelah karna menggendongku.Ku lihat keringat menetes di keningnya,aku ingat aku punya tissu di kantong ku,sebagai sedikit balas budi kuhapuskan keringatnya.Dia tersenyum,meskipun aku tidak melihatnya dari depan tapi aku tau senyumnya masih semanis dan seindah senyum yang pernah aku lihat sebelum-sebelumnya.
Banyak pembahasan yang tercipta diatara aku dan dia.Begitu nyaman rasanya ada di dekatnya,emndengar suaranya,melihat senyumnya.Aku semakin ingin takdirnya dan takdirku dipertemukan oleh Tuhan dan di ikat untuk selama-lamanya.
"Itu tempat kostku,rumah yang warna pink itu ya"
Now,masih dalam gelak tawa aku dan dia sudah sampai di depan pintu kostku.Aku dan dia duduk di kursi teras.
"Ternyata ngobrol sama kamu seru ya,cerewet dan gak mau kalah"
"iya kamu juga,sok tau lagi!"
kami tertawa lagi.Sore ini kebahagiaan memang ada dipihakku.
"makasih ya". Aku tersenyum kepadanya,menunjukan senyumku yang paling manis pertanda bahwa aku benar-benar bahagia berasamanya sore ini.
"Makasih untuk apa?"
"Untuk semuanya.Dari awal waktu kamu nolongin aku dari preman-preman itu,untuk menolongku setiap kali kita tidak sengaja bertemu dan untuk sore yang menyenangkan ini"
"Sudah kewajiban kita sebagai manusia saling menolong bukan?Santai ajaaa"
Dia mengelus lembut rambutku dan tersenyum lagi.Kali ini aku yakin ini senyumnya yang termanis!aku tau dia sama bahagiaanya sepertiku sore ini.
"Oiya,kita sering ketemu tapi kenapa kita gak pernah kenalan?aku pandji,kamu?"
"oiya ya kita belum pernah kenalan,abis ngobrol sama kamu kayak udah kenal lama sih hehehe aku amoralia"
"amoralia?sounds good.Artinya cintakan?"
Dia mengulurkan tangannya dan aku juga menyambut jabat tanggannya itu.
"iya,Amor itu artinya cinta.Sekali lagi makasih ya untuk semua-mua-muanya"
"Sama-sama,yaudah udah sore nih aku pulang dulu ya mora"
"Eh tunggu dulu,boleh aku mina nomer telon kamu?ya siapa tau aku lagi bete dan butuh temen ngobrol jadi aku bisa contact kamu gitu,boleh?"
"boleh banget hehe nih handphoneku,kamu save sendiri aja ya"
"oke,kamu tulis nomer kamu di buku ini aja ya,handphone aku mati soalnya.aku tulis namaku disini 'amora cantik' ya hehehehe" Aku menyeringai sedikit.
Setelah bertukar nomer handphone kamu saling menjabat tangan.Tangannya begitu kuat dan masih tetap hangat.Mata kami juga bertatapan untuk sepersekian detik.Hati kecilku berbisik inilah cinta pandangan pertama.Cinta yang pertama kali aku rasakan~
Pandji pamit pulang dan aku juga masuk ke dalam kamarku untuk mengistirahatkan tubuhku.
Dua hari telah berlalu,Takdir seakan bermain-main dengan kita.Setelah pertemuan itu kita tak pernah lagi bertemu.Dia juga belum menghubungi aku,akhinya ku beranikan diriku untuk menghubunginya karna pada waktu itu juga aku yang meminta nomer handphonenya.
Dalam pesan singkat itu ku tuliskan sore itu aku menunggunya di taman tempat pertama kali takdir mempertemuka kita.
Sore itu aku menunggu...mununggu..menunggu dan menunggu...tapi dia tidak datang.
Aku penasaran pada sosoknya dan kenapa dia menghilang begitu saja.Tapi aku bingung kemana aku harus mencarinya.
Karna merasa aku hanya akan mendapat jalan buntu jika melanjutkan ini semua,kuputuskan untuk berhenti mencari tahu tentang dia sebelum perasaan ini semakin jauh dan sebelum kekecewaan melanda hatiku.
Aku hanya tidak ingin mendapatkan hal yang abu-abu.Ku coba menghapus nomer handphonennya dari handphoneku,ku coba lupakan pertemua-pertemuan kita yang begitu singkat itu,ku coba lupakan senyumnya,tatapannya,suaranya bahkan aroma tubuhnya yang sudah sangat aku khafal.
Aku berjanji akan melanjutkan hidupku seperti saat dulu sebelum bertemu dengan dia,harusnya aku memang tidak boleh teruru-buru menyebut ini cinta.
Pertemuan kita yang singkat mugkin memang hanyalah permainan takdir.Dan bukankah memang sudah seharusnya setiap ada pertemuan akan ada perpisahan?jadi,apa yang harus manusia risaukan?tapi apakah ini bisa di katakan perpisahan jika sebelumnya saja dia tidak mengucapkan selamat tinggal?
Memang harusnya ini akan menjadi mudah.Karna kita belum saling mengenal terlalu jauh.Tapi....rasa penasaranku padanyatidak pernah padam sedikitpun sampai detik ini!
Ini sudah hari ke-7 rasa penasaranku terus memanas padamu dan tepat hari ke-7 juga sejak pertemuan terakhir itu.
Aku sibuk menerka-nerka tentang kamu,dadaku mulai sesak,otakku buntu,aku benar-benar merasa tebunuh dengan hilangnya kamu.
"heh!bengong mulu,ada sms tuh di hp lo"
Dewi yang sedang ada di kamaku rupanya merasa terganggu telingannya oleh ponselku yang sedari tadi menjerit.Ku raih ponselku dengan lemah,terpampang disana ada 4 sms yang masuk.ku perhatikan dari pengirim pertama sampai yang terakhir,betapa kagetnya aku melihat pengirim pesan ini.Nomer yang sebenarnya sudah aku hapus dari contacs tapi tidak dari memory otakku.Ada sedikit keraguan dalam hatiku akhirnya aku mengecek nomer itu di buku harianku.Aku ingat hari itu handphoneku mati jadi kamu menulisnya di buku ini.Dan ternyata benar itu nomer kamu!Sudah di kejutkan melihat nomer itu aku lebih terkejut lagi membaca isinya.

-081234567-
Assalamualaikum wr.wb.Maaf baru membalas pesan ini setelah 7 hari.Nomer ini sudah tidak digunakan lagi oleh pandji melainkan oleh kakaknya.7 hari yang lalu pandji terkena serangan jantung dan mengalami kecelakaan.Tolong bantu doa agar pandji tenang disana ya,Terimakasih.Wassalamualaikum

Seketika tubuhku lemas,mataku tak jelas melihat apapun,aku merasakan tubuhku terjatuh,aku pingsan...
Dalam ketidak sadaranku,aku bertemu Pandji.Dia begitu tampan dengan jas putih dan celana putih itu,ada dua anak kecil yang sangat cantik dan lucu disampinnya,mereka terus menarik tangan Pandji kedalam ruangan putih penuh cahaya yang tak sama sekali ku mengerti.aku ingin sekali menyusul pandji dan anak-anak itu kesana.aku ingin ikut pandji tapi entah kenapa kakiku terasa sulit untuk melangkah.
Kulihat pandji berjalan kearahku dan tersenyum kepadaku,aku menyambutnya dengan senyumku pula.Senyum penuh kelegaan akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan dia.
Dia meraih tanganku dan memelukku,pelukan yang sangat hangat.Aku larut dalam peluknya,aku menangis.Aku sungguh takut kalau ini adalah cara pandji untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Ndji,jangan pergi" ucapku masih dalam mata yang penuh dengan air mata.
"Maaf mora,maaf hanya bisa menciptakan sebuah pertemuan singkat yang sangat sederhana,saat kamu menunggu aku ditaman itu sebenarnya aku datang,aku duduk di sampingmu,tidur dalam pangkuanmu dan terus memelukmu tapi kamu tidak bisa merasakan kehadiranku karna aku sudah bukan lagi pandji yang dapat kamu lihat.Mora,kamu harus tau sebenarnya semua pertemuan itu bukanlah sebuah ketidak sengajaan,kita adalah teman satu kampus dan sering kali satu kelas.tapi mungkin kamu jarang melihat aku,Aku sudah mencintaimu sejak lama tapi aku lebh memilih mencintaimu dalam diam Mora.Aku selalu mengikutimu kemanapun kamu pergi karna itu setiap kamu ceroboh aku yang selalu menolongmu,untuk pertemuan nyata kita yang terakhir itu aku benar-benar bersyukur pada tuhan akhirnya dia mengizinkanku untuk dekat denganmu sebagai yang pertama sekaligus yang terakhir.Mora kamu harus tetap menjalani hidupmu seperti dulu,jangan menjadi mora yang cerboh lagi karna sudah tidak ada pandji yang akan selalu menjadi malaikat penolongnya.Anggap pertemuan singkat itu tidak pernah terjadi Mora,kamu hanya perlu menyimpannya bukan meratapinya.Aku menyayangimu Mora."
"Ndji jangan pergi ndji,Aku belum mengenal kamu lebih jauh,aku butuh kamu ndji"
"Datanglah kerumahku Mora akan ada benda yang menjadi aku untukmu"
"Kenapa kamu gak pernah mau muncul di depan aku dulu?kenapa baru sekarang??"
"Sudah takdir&jalannya seperti ini Mora.percayalah akan ada orang lain yang bisa membahagiakan kamu lebih dari aku nanti,setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan tapi jangan lupa juga dari setiap perpisahan akan ada pertemuan yang lebih membahagiakan"
"Tapi ini serius!aku cuma mau kamu ndji!" Aku semakin erat memeluknya.Sungguh tak rela dia benar-benar pergi.
"Waktuku sudah habis Mora,aku harus pergi,tetap masih ada mentari di hidupmu dan akan selalu ada pelangi si setiap hujanmu,lihatlah bulan di malam hari jika kamu merindukan aku.Jalani hidupmu seperti sebelum mengenalku dulu Mora,selamat tinggal.Aku mencintaimu." 
Pandji mengecup keningku lalu berjalan pergi bersama anak-anak itu.Pandji benar-benar pergi bahkan sebelum aku mengenalnya.Sebelum Pandji benar-benar pergi menghilang dari pandanganku dia masih menatapku dan menyimpulkan senyum manisnya,senyum manis yang akan selalu aku kenang dan aku rindukan.Tidak akan ada lagi senyum darinya untukku.
Sesaat kemudian aku tersadar,kulihat teman-temanku melihatku dengan khawatir mereka terus bertanya apa yang terjadi padaku tapi aku tidak bisa berkata apapun.Aku hanya bisa menangis.
Rasanya ingin sekali berteriak,kenapa Pandji harus pergi secepat itu?dan kalau akhirnya seperti ini,kenapa takdir mempertemukan aku dan pandji?dan kenapa justru cinta ini semakin kuat setelah dia pergi??
Hanya air mata yang saat ini benar-benar berbicara tentang seberapa hancurnya aku sekarang.Kejadian ini benar-benar tak pernah ada dalam benakku sebelumnya,aku tak pernah mengira ada orang yang mencintaiku dalam diam,bahkan sampai akhir hidupnya.

Esok harinya aku datang kerumah pandji,mungkin dengan cerita dari keluarganya tembok penyesalan dan rasa bersalah yang sudah terbangun tinggi dihatiku ini bisa runtuh.
Setibanya disana tak kusangka mereka telah mengenalku dan malah telah menungguku datang.Ibunya tak kuasa menahan air mata saat bertemu denganku,begitu juga dengan keluarganya yang lain.Dari yang ku dengar,ternyata pandji telah lama menyukaiku sejak ospek,itu berarti 2,5 tahun yang lalu.Setiap acara keluarga pandji selalu bercerita tentang aku,tentang dia yang mencintaiku dalam diam dan memperhatikan setiap detail diriku.
Pandji hafal semua tentang aku,aku yang setiap hari senang memakai baju warna biru,aku yang lebih senang berjalan kaki ketimbang naik kendaraan,aku yang lebih suka ketenangan,aku yang selalu memakai gelang keberuntungan dari alm.Ibuku dan juga aku yang selalu makan Indomie tanpa kuah di kantin kampus.Pandji tau semua tentangku.
Kakaknya mengajakku masuk kedalam kamar pandji.Kamar yang bersih,rapi dan penuh dengan wangi pandji.Kulihat dalam lemarinya,disana banyak tersimpan fotoku.Sekarang air mataku semakin berlinang.Kenapa ada orang yang mencintaiku tapi aku tak pernah sadar?ini penyesalan terbesarku.
"Pandji teramat mencintaimu Mora,dia bahkan rela melakukan dan mengorbankan apapun hanya untuk kamu" ucap kakak pandji yang sekarang juga sama sepertiku,menangis.
"Kenapa pandji baru muncul belakangan ini ka?"
"Mungkin karna dia tau waktunya akan segera habis Mora,jadi dia memberanikan dirinya menemuimu,ini....beberapa foto pandji dan kamu yang kakak ambil dari jauh.Kebetulan saat di taman itu pandji meminta kakak untuk menemaninya,tapi bodohnya kakak adalah meninggalkannya dan membiarkannya menyetir mobil sendiri sehingga kecelakaan melandanya.sebelumnya pandji memang tidak pernah bepergian sendiri." 
Tangis kakak pandji pun mulai pecah.Di hadapanku dia menceritakan beberapa hal tentang Pandji sebelum kepergiannya.Aku semakin merasa bersalah pada pandji,aku menyesal kala itu meng-iyakan pandji untu menggendongku.Harusnya aku sadar saat mendengar detak jantung pandji yang tidak seperti orang normal biasanya.
"sejak kapan pandji punya penyakit itu kak?"
"Sejak dia lahir Mora,penyakitnya adalah keturunan dari ayahnya. "
Aku dan kakak pandji terdiam......
"jadi mora,sudah siapkah untuk kemakam?" 
"Boleh aku minta waku sebentar lagi kak?aku mau sendiri disini"
"tentu,jangan terlalu diratapi ya.Pandji pasti tidak akan senang melihat kamu menangisi kepergiannya"
Kakak pandji keluar.Kini aku sendiri diruangan pandji.Ruang yang di setiap sudutnya pasti pandji pernah tempati.Ruangan tempat pandji berisitirahat,ruangan tempat pandji belajar dan ruangan tempat pandji banyak menyimpan semua tentang aku.
Bagaimana bisa dia mengetahui semua tentangku,tapi aku?mengenalnya saja baru akhir-akhir ini.Rasanya kesal juga menyesal.Kenapa pandji tak pernah menampakan wujudnya dari dulu?kenapa ndji?!!takutkah kamu aku menolak orang sebaik kamu?Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur,wangi ini sangat khas.iya,wangi pandji.
"Aku harap kamu disini Ndji.Aku masih ingin melihat dunia yang berwarna-warni ini bersama kamu.Aku belum ikhlas kamu pergi..............."
                                                         ****
Here we go.Aku sudah memijakan kaki di Tpu kebon jeruk.Debar jantungku semakin tak menentu.Yang aku ingin melihat pandji bukan hanya batu bertuliskan namanya atau tanah yang telah menimbun dirinya.Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan sebagai tanda penghormatan dan tanda cintaku padanya.
Ditemani kakaknya,kini aku telah ada di makam Pandji.Di depanku benar-benar ada batu nisan dengan nama Pria yang aku harapkan adalah jodohku.
Seketika tubuhku lemas,aku terduduk tepat di depan rumah baru pandji.Rumah yang sebenar-benarnya rumahnya.
"Ndji aku gak tau harus dengan apalagi meminta maaf dan berterimakasih sama kamu,pada kehadiran kamu yang meruba segalanya.Ndji sebenarnya tentang kamu,semua masih terlalu abu-abu untukku.Masih banyak tanda tanya yang ada di dalam hatiku tentang kamu dan entah darimana ndji aku bisa mendapatkan semua jawaban atas pertanyaanku ini,Tapi ndji aku sudah ikhlas sekarang kamu pergi.Aku janji tidak akan jadi Mora yang ceroboh dan akan selalu tersenyum.Ndji aku sayang kamu dan aku tau kamu dengar aku dari sana.”
Aku menaburkan bunga di pusaran pandji,aku tidak menangis karna aku tau pandji akan melihatnya.Sekuat tenagaku aku menahannya.Aku tidak mau menyakiti pandji lagi.
"Mora ini titipan dari pandji.Seperti tau kalau semua ini akan terjadi pandji telah menuliskan semua tentang dirinya disini.Mungkin tentang pertanyaan-pertanyaan kamu yang belum terjawab semuanya akan ada disini.Ingat Mora adikku sangat menyayangimu.”
Yap,pertemuan yang sangat singkat ini benar-benar merubah segalanya.Kini aku benar-benar harus melangkah melanjutkan hidupku tanpa pandji.
Tentang semua pertanyaan itu, kakaknya mungkin benar.Aku akan menemukan jawabannya dari buku ini.Buku yang akan selalu aku simpan.
Sekilas aku teringat kembali pada pertemuan nyataku dengan pandji yang terakhir itu,sebelum pulang pandji menjabat tanganku dengan sangat hangat.Mungkin,jabatan tangganya yang terahir itu adalah caranya mengucapkan selamat tinggal.
Pandji memang malaikat perubah hidupku.
Dan kini aku semakin sadar,allah maha kuasa dia yang mengatur semua yang terjadi di bumi ini dan di hidup umatnya.Hanya tuhan yang tau kapan manusia itu lahir,bagaimana perjalan hidupnya,apa saja tugasnya,dengan siapa dia bertemu&berjodoh dan kapan waktunya untuk pulang.
Selamat jalan ya Ndji.
Semoga di kehidupan lain,kita bisa di persatukan.
Takdirmu mengikat takdirku selamanya......

Amora......




Senin, 15 Juli 2013

terimakasih takdir & sang waktu pt.2

Aku tersontak mendengar ucapannya sepersekian detik yang lalu.Seperti ada petir yang menyambarku,kini aku hanya bisa terdiam namun aku memberanikan diriku menatap matanya.Aku berusaha menemukan sosok penopangku pada cowo yang belakangan ini aku sebut annoying karna setiap kali bertemu dia kesialan selalu menimpaku.
Ku tatap matanya dalam-dalam,ternyata memang mata itu yang dulu selalu memberi sinar untuk hidupku,aku menurunkan sedikit pandanganku,hidungnya...hidung yang selalu aku tarik saat aku kesal dengannya.Pipi merah itu,pipi yang selalu kucubit setiap kali kita bertemu.Tangan ini,tangan yang selalu menghapus air mataku dulu.Dan bahu ini,bahu yang selalu jadi sandaranku ketika aku bersedih dan tak tau kemana harus mencari ketenangan.Tuhan,mungkinkah semua ini nyata?Benarkah kali ini tuhan menjawab doaku dan memerintahkan takdir mempertemukan aku dan dia lagi?
"siapa kamu?" Air mata kini mulai tak terbendung lagi,sedikit demi sedikit dia meluncur mulus dipipiku.Aku berusaha menghapusnya tapi tangannya menghalangi.
"biarkan air mata itu jatuh,aku yang akan selalu menghapusnya untuk kamu Ren"
Mendengar ucapannya itu petir seakan menyambarku lagi.Aku terdiam,jutaan memory kembali merasuk kedalam otakku.Masih terekam jelas dalam ingatanku,Hari itu aku dan dia bermain ditaman,dia mengajariku bermain sepeda,lebih tepatnya dia memaksaku untuk belajar sepeda.Dia yakin aku bisa dan dia memang benar aku bisa tapi sesaat kemudian aku terjatuh dia segera berlari kearahku dengan wajahnya yang panik.Aku menangis meratapi lututku yang berdarah dan dia dengan sigap mengambil sapu tangannya dan mengikatnya di lututku.Aku berusaha meredam tangisku tapi dia bilang 
"jangan tahan dia keluar,biarkan air mata itu jatuh,akan ada aku yang akan selalu menghapusnya untuk kamu".
Semua ini seperti dejavu untukku.Dan kini hatiku benar-benar yakin kamu adalah dia.
"jangan paksa otak kamu mengingat semuanya ren" Suaranya lagi-lagi-lagi dan lagi membuyarkan lamunanku.Aku tak sadar kalau dari tadi aku menatap matanya dengan air mata yang berlinang.
"Siapa kamu?kenapa kamu mirip dengannya?".Kali ini aku tak ingin jadi pecundang,hari ini juga aku harus tau siapa dia sebenarnya.Aku tak ingin menduga-duga lagi!semua sudah cukup!tak perlu esok untuk mengetahui siapa dia yang sebenarnya,detik ini juga dia sudah ada di depanku dan yang harus aku lakukan adalah mengetahui kebenarannya dari mulutnya langsung.
Dia menyambut pertanyaanku dengan pelukan.Pelukan hangat sama seperti yang pernah aku rasakan dulu.
"Kamu tau siapa aku Ren,you know me so well,very well.sekarang,apa kamu merasakan ketenangan seperti yang kamu rasakan dulu?" Ucapannya benar-benar meyakinkanku kalau dia adalah orang yang lima tahun ini aku cari.
"Kamu adit,kamu adit sirambut jabrik annoying yang selalu membuat aku tersenyum,yang selalu membuat aku bangun pagi sekalipun itu hari libur,kamu adit yang sering mengajakku ketaman bunga dan mengoncengku dengan sepeda milikmu hadiah ulang tahun dari ayahku.kamu aditku"
Tangiskupun pecah saat itu juga,aku tidak bisa lagi membendungnya.Air mataku,mereka benar-benar memaksa untuk keluar.Aku masih berada dalam pelukan hangatnya dan kini aku semakin erat memeluknya,aku tak ingin lagi berpisah darinya.Sesekali kurasakan dia mencium keningku,aku tau dia bersyukur karna takdir telah menemukan kami berdua kembali,begitupun dengan aku.Kali ini aku ingin berdamai dengan takdir&sang waktu.
"Aku kangen kamu Ren,aku gak nyangka kita bisa ketemu lagi disini dan dengan kejadian yang kayak gini."Adit kini membuka pembicaraan,dia mulai bisa menstabilkan dirinya.Tapi aku belum,aku masih sangat syok,aku semakin mengeratkan pelukanku.Sejak 5 tahun lalu aku benar-benar merindukan pelukan ini.Peluk hangat yang bisa dengan seketika menghilangkan segala kegelisahanku.Adit sejak dulu adalah malaikat pelindungku,malaikat penjagaku.
"Maaf dulu jika aku pergi tanpa pamit,aku benar-benar tidak tahu harus mencari kamu dimana saat itu,terlebih karna desakan mama dan papaku,maaf" 
Entah sudah berapa banyak bulir-bulir air mata yang sudah aku jatuhkan di baju adit.Aku sendiri tidak sadar sudah berapa lama kami dalam posisi seperti ini.saling berpelukan dan tak berniat untuk melepaskannya.
"Apa kamu marah padaku saat itu dit?" Aku kembali memberanikan diriku untuk menatap matanya.
"Jujur saja saat itu aku marah Ren,aku gelisah setiap malam.Aku selalu menunggumu kembali.Setiap hari sebelum berangkat ke kampus aku selalu meletakkan satu tangkai mawar di depan rumahmu,harapanku saat aku pulang,aku melihatnya tidak ada lagi di tempat lalu kembali kerumah dan melihatmu ada di sana dengan satu tangkai mawar yang tadi aku letakkan,tapi itu tak pernah terjadi Ren,berbulan-bulan bahakan bertahun tahun.Dalam amarahku padamu aku tetap mengharapkan kamu kembali Ren." Adit mengungkapkan semua kesedihannya saat aku tinggalkan dulu.Sesekali dia menghapus air mata yang ada di pelupuk matanya.Aku tau adit tidak mau terlihat lemah dihadapanku,Dia selalu ingin aku melihatnya sebagai pelindung&penjaga yang kuat untukku.
"Aku bisa ada disini karna Pro budi memintaku menemuimu,dokter budi malaikat untuk kita ren" Lanjutnya dengan senyum lalu memelukku lagi.
"Eiya ren,kamu ko sekarang bisa kurus sih?kemana pipi Renandha yasinta yang ngegemesin itu?Tapi kamu tetep ya jadi cerewet dan cengeng hahahahahaha" Ledeknya seraya menggelitik perutku.
Kini aku tau,sekuat apapun manusia menolak/mengulur takdirnya terjadi tapi sang wakut dan takdir akan terus bekerja sama untuk melakukan tugas mereka.Sang takdir akan selalu menjalakan apa yang sudah Tuhan perintahkan.
Dan kini aku senang karna sang waktu&takdir mempertemukan kami berdua kembali.Walau kami tak tau apa yang akan kami hadapi di depan nanti,tapi dengan cinta kami akan terus bersama.Tak perduli akan ada takdir baik/buruk yang akan kami temui di depan nanti.kami akan terus berusaha bertahan.
Dan perlu kalian tau,mulailah sebuah hubungan dengan persahabatan..........

                        

terimakasih takdir & sang waktu pt.1

Sejak takdir membawamu kembali padaku aku merasa semuanya berubah.Entah apa yang akiu rasa kadang aku pun tak mengerti dan sulit untuk mengartikan semuanya.
Saat itu 20 april 20120 saat awal pertemuan kita, 1 hari setelah ulang tahunku.
Saat takdir membawaku bertemu dengan laki-laki sebawel dan se-annoying kamu.

          Kita keluar dari tempat ibadah yang berbeda,yang kebetulan tempat itu bersebelahan.5 tahun aku berdoa dan berusaha berkomunikasi dengan tuhan ditempat ini tidak pernah aku melihat kamu keluar dari gereja itu sekalipun,tapi hari ini mungkin saatnya takdir mempertemukan kita.

Aku berjalan menuruni tanggan dan berniat untuk makan ketoprak favoritku di pinggir jalan sana.Namun,baru keluar dari pintu gerbang tiba-tiba "bukkkkkkkkkk" aku merasakan seseorang menabrakku.
"kamu ya!kalo jalan tuh pake mata dong!untung aku tuh gak jatoh ditabrak badan gede kamu itu!" ucapku nyerocos tak henti sambil membenarkan rambutku.
"hello nona kecil!dimana-mana jalan tuh pake kaki,gak ada orang yang jalan pake mata!gimana sih kamu ini?! " ucapnya yang kali ini justru balik memarahiku.
"ihh dasar cowo annoying!udah salah bukannya minta maaf malah balik marah-marahin aku.heh aku ini korban!!ah udah ah makin laper ngomong sama orang kaya kamu!"
"hih yaudah sana pergi siapa juga yang pengen lama-lama ngobrol atau debat sama cewe sebawel kamu" ucap laki-laki itu lalu pergi duluan meninggalkan aku.Aku hanya bisa terpaku pada tempatku berdiri saat ini,menggerutu dan mengepalkan tanganku berharap kalau aku bisa meninju wajahnya sampai biru,kali ini aku benar-benar kesal.
                                           ****
"ayah,ibuuu,aku pulang" ucapku seraya menghepaskan badanku diatas sofa favoritku,sofa yang empuk dan cocok sekali dengan badanku ini. "loh,ini orang-orang kok gak ada yang nyaut sih! mah,pah,aku pulang nih,kalian dimana ya?"
 sekali lagi aku memanggil-manggil mereka tapi tetap tidak ada jawaban,aku berkeliling rumah da ternyata mereka ada di kolam renang.
Didalam rumah besar ini aku memang hanya tinggal ber-6 dengan keluargaku.
aku,mama,papa dan adikku kumala,bi ijah dan pak naras.Hari ini mungkin kumala ada les biola jadi dia tidak ada dirumah.Bi ijah dan pak naras mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak mendengar aku pulang tadi.

"mah,pah aku cariin dari tadi gak taunya ada disini" aku menyapa mereka seraya mengecup ke dua pipi mereka.Sejak 5 tahun setelah perkara itu terjadi akhirnyaa keluargaku bisa utuh kembali.
"kalo di seluruh antero rumah ini mama sama papa gak ada ya pasti mama sama papa disini sayang!" ucap mama seraya membelai hangat rambutku.
"oiya nak,gimana?siapa yang mengisi acara ceramah hari ini?"lanjut papa,menyambar cepat akhir ucapan mama tadi.
"hari ini sama seperti minggu kemarin pah!masih ustadz basopi.Aku ke kamar dulu yah ganti baju terus mau tidur ngantuk banget nih"

aku bangkit dari posisi jongkok ku lalu segera lari ke kamar ku yang berada di lantai 2.ku dengar suara mamaku yang mengingatiku agar hati-hati samar-samar.
Aku membuka pintu lalu segera menjatuhkkan diri diatas ranjang empuk dalam kerajaanku.Aku menghela nafas panjang seraya menatap langit-langit kamarku,sejenak memejamkan mata berharap menemukan bayangannya dalam benakku.
Sudah 5 tahun sejak hari itu aku tak pernah lagi melihat dia.Kepindahanku yang juga mendadak membuat kita tak sempat bertukar nomer telfon untuk berkomunikasi,entah kemana lagi aku harus mencarinya.Ku dengar dari teman-temanku sekarang dia tinggal dikota yang sama denganku,setiap hari aku berdoa meminta pada tuhan agar takdir mempertemukanku dengannya,namun 5 tahun sepertinya belum cukup untuk tuhan meng-iyakan doa-doaku,mungkin menurutnya aku belum bersungguh-sungguh.Entah kapan takdir akan membawanya kembali padaku.
Tiba-tiba bayangan 5 tahun lalu itu berganti dengan kejadian 1 jam yang lalu,saat aku keluar dari masjid dan bertemu cowok annoying yang entah dari planet mana ia berasal.Aku mengingat saat dia membentakku dan wajah sok tidak bersalahnya itu,sungguh menyebalkan.
"ih kenapa jadi cowok annoying itu sih?eh tapi kenapa aku kayak gak asing ya sama wajah orientalnya itu?aku kaya sering liat dia,but where?"Aku berusaha memutar balikan laju otakku,berharap menemukan dia dikisah lampauku dulu.tapi tak ada hasilnya.
"Ah mungkin wajahnya aja yang memang pasaran,kenapa aku harus memikirkannya?tidak mungkin dia ada dalam masa laluku dulu.lagian mana mungkin aku bisa melupakan orang yang ada dalam masa laluku,ingatanku kan masih sangat bagus,cowok itu memang aneh."
Aku masih saja menggerutu soal cowo annoying itu,semoga aku tidak bertemu dia lagi dimasa depanku.......
Aku bangkit dari tempat tidurku,mengambil pakaian dari lemari lalu menuju ke toilet.For a while,aku keluar dan berjalan kearah cermin,merapihkan baju dan rambutku sekali lagi.Ah aku memang kelihatan cantik dengan rambut pirang dan mata biruku ini"hiihihihi" aku tertawa kecil lalu sedikit menghembuskan nafas perlahan,

"5 tahun berlalu,kapan kita akan bertemu?sayang kan cewe cantik kaya aku gini belum punya pasangan juga" memang selalu ini yang kulakukan kala keputus asaan melanda diriku,berbicara dengan cermin.Ah entahlah,aku berserah pada takdir.Biarkan dia menjalani tugasnya dengan baik dalam hidupku.

 ********
Hari berganti,aku semakin menyadari waktu tak pernah lelah untuk terus berputar,dia bahkan tak pernah sekalipun berhenti.Mungkin ini adalah tugasnya terus berputar tanpa lelah dan selalu membuat manusia berwaspada.
"Trink..trinkk...trinkk..." jam weker berbunyi,suaranya seakan memaksaku untuk benar-benar bangun di pagi hari ini.
"tok...tok...tok". Aku mendengar suara seseorang memanggil-manggil namaku.
"Renandha yasinta,ayo bangun!sudah jam berapa ini nak?ren ayo bangun".
"iya ma,ini Rena sudah bangun kok"
Huh,sudah kuduga pasti itu mama.Berbeda dengan 5 tahun yang lalu ketika dia masih ada,Sebelum dia berangkat kesekolah setiap pagi dia pasti selalu membangunkanku.Baru kusadari jam weker disebelahku masih terus saja berbunyi,aku segera mematikannya dan bergegas untuk mandi.Aku bukanlah tipe gadis yang senang menghabiskan waktu berlama-lama dikamar mandi,bagiku cukup dalam 15 menit aku sudah menjadi wangi,bersih,dan kembali cantik walaupun pada dasarnya aku ini memang anak yang cantik hihihihi.15 menit kemudian aku sudah siap untuk mengawali semua aktifitasku pagi ini,tak lupa juga aku berdoa pada tuhan agar dia memberkahi dan melancarkan semua urusanku hari ini.
Ini masih pukul 09.00 tapi aku sudah harus segera berangkat ke kampus karna 30 menit lagi aku harus bertemu dengan dosen pembimbingku.Yap,tahun ini memanglah tahun terakhirku menjabat sebagai anak kampus.Tahun depan aku sudah benar-benar siap untuk memulai hidupku yang sesungguhnya.
Aku keluar dari kamar dan segera berlari menuruni tangga,menghampiri mamaku yang sedang asyik membaca majalah di ruang tamu.
"sepi banget ma,papa sama kumala udah berangkat dari tadi yah?" ucapku seraya memeluk mama dari belakang dan mengecup pipinya yang halus.
"yaiyalah sayang!ini sudah jam berapa tuh lihat"
"oiya,yaudah aku berangkat ya ma,takut telat nih!see u soon ma"
Aku lantas berlari keluar dan segera masuk ke dalam mobil yang sebelumnya sudah dipanaskan terlebih dahulu oleh supir kesayangan keluargaku.Tak berapa lama kemudian bi ijah pembantuku membukakan pintu gerbang dan aku segera melesat membelah jalanan pagi itu.Panas dan macet lah yang saat ini menjadi musuh bersarku sejak aku tinggal di Jakarta.Entahlah,aku lebih suka kotaku yang dulu,jauh dari keramaian,tak ada kebisingan kendaraan,udaranya masih sejuk dan asri dan tentunya juga akan selalu ada dia.
Tepat pukul 09.20 aku sudah sampai di kampusku.Tanpa membuang-buang waktu aku langsung berjalan menuju ruangan dosen pembimbingku,aku memang tidak terlalu suka berada dikampus.jujur,aku tidak suka keramaian mungkin karna rasanya akan sama,aku akan tetap merasa sepi.
Kini aku telah duduk manis di ruangan dosen pembimbingku,aku melirik-lirik sedikit ke isi ruangan ini.Ruangan yang cukup luas jika hanya untuk dosen dan satu asistennya.Ku lihat beberapa piagam milik beliau yang terpampang di dinding,Juga dimejanya kulihat ada fotonya bersama orang nomor satu di negri ini tentu dengan wakilnya juga.Aku tau beliau pasti sangat bangga pada dirinya.Seperti aku yang juga memajang beberapa fotoku dengan artis-artis idolaku dan juga fotoku bersama patung-patung lilin orang ternama di madame tussauds newyork saat liburanku tahun lalu bersama keluargaku.Memang ada kebanggan tersendiri jika melihatnya.
Sesekali aku melihat ke arah jam berwarna biru yang melilit apik ditanganku.ini sudah puku 09.45.Tidak biasanya Prof  telat jika diajak berdiskusi,biasanya malah beliau yang menungguku.Tapi aku tetap menunggu,mungkin beliau sedang ada kepentingan yang lebih urgent sehingga harus ditanganinya sampai selesai.Sudahlah aku lebih baik bersabar apa salahnya menunggu jika akan mendapat hasil yang indah?.
"Maaf saya telat,maaf sekali lagi."
Lamunanku terbuyarkan oleh suara ini,suara yang jelas-jelas bukan milik Prof Budi.
"Elo?!!"
Betapa kagetnya aku melihat sosok yang ada di depanku saat ini yang sama kagetnya denganku ketika kami bertatap muka.Kedua bola mata kamu bertatapan sepersekian detik,kami berdua sama-sama terdiam terhanyut dalam pikiran milik masing-masing.

*men prolog*
"ya tuhan,jadi gadis ini renanda?kenapa aku tidak mengenalinya saat pertama kali kita berdua dipertemukan kembali oleh takdir 2 hari yang lalu?dia sangat berubah.Hanya saja,mata ini.mata ini memang milik renandhaku."

"hellow,kamu kenapa diem?Woy!!" beberapa kali tanganku melambai-lambai di depannya tapi dia tetap pada diamnya,ada apa sebenarnya dengan manusia ini?sedang apa dia disini?apa mungkin dia anak Prof Budi?ah tapi seingatku anak Prof Budi hanya satu,dan dia perempuan.
"awwwwww......" Tepat sesaat setelah cubitanku melayang di pipinya dia tersadar dari lamunannya,huh syukurlah,aku kira dia mati berdiri setelah melihatku tadi.Tunggu!memangnya aku semenakutkan itu apa?sehingga orang yang melihatku bisa kaget sampai mati?lagiankan ini pertemuan kedua kami.

"sakit tau!" ucapnya galak.
"Ya lagian,dari tadi di tungguin ngomong gak ngomong-ngomong.Kenapa ngeliat aku sekaget itu?hah?!"
"kamu Renandha yasinta?" Tanyanya dengan ragu.
"iya,aku Renandha yasinya.Aku disini karna ada janji sama Prof Budi.Kamu siapa?oh jangan-jangan mahasiswa juga ya?mau diskusi juga ya?eh enak aja aku dulu!aku udah nunggu hampir satu jam loh,awas kalo berani nyerobot,aku kasih ini nih!!" Ucapku dengan jutek dan menunjukan kepalan tanganku di depan wajahnya yang akan ku berikan kalau dia benar-benar mau menyerobot untuk berdiskusi dengan Prof Budi.

*Men Prolog*
"Ya tuhan jadi dia benar-benar Renandhaku yang 5 tahun lalu meninggalkanku.Rasa ingin memeluknya begitu besar,apa dia benar-benar tidak mengenaliku?Tapi aku harus bersabar,aku masih dalam Tugasku.Apa nanti menurutnya kalau aku tiba-tiba memeluknya?dia pasti bingung dan akan berteriak,Tahan Dit,tahan!"

"Kamu kenapasih?dari tadi ditanya malah bengong-bengong mending aku pergi deh aku bikin janji lain aja sama Prof Budi.Permisi.........."
"sial bgt aku kenapa harus ketemu cowo annoying ini lagi sih?"Batinku berucap.
Aku berjalan ke pintu keluar tapi kemudian tangannya mencegahku.
"Tunggu sebentar,kamu gak pernah denger ya kalo dosen itu punya asisstant?bawel deh,main ngejudge orang sembarangan aja,oh aku tau sih aku ini keliatan masih muda dan masih gantengnya wajar kalo kamu bilang aku kaya maha siswa!Prof Budi menyuruhku untuk menemui kamu karna beliau ada rapat dadakan di Bandung dengan para Dosen yang lain"
Ucapannya menghentikan langkahku,kini aku menudur dua langkah mendekatinya.Memang benar sih dia tampan,dan kelihatannya juga masih seumuranku,mungkin lebih tua 2 tahun.Tunggu!apa tadi dia memanggilku bawel?!.Aku melirik kearah pergelangan tanganku yang sedari tadi di genggamnya seakan tau maksudku dia langsung melepasnya.
"Heh yang pertama!aku tau ya Prof Budi itu punya asistant dan aku kenal baik ko dan kamu gak usah ngaku!kedua,gak usah sok ganteng deh aku geli liat cowo kayak gitu.Ketiga,aku gak suka ada org yang megang tanganku!ngerti?permisi!"Aku lantas pergi meninggalkannya namun lagi-lagi terhenti karna suaranya,suaranya begitu menggetarkan hatiku,suaranya mirip dengan suara dia.
"Renandha!nih liat berkas-berkas yang aku bawa!ini dari Prof Budi semua.Asistannya yang lama mengundurkan diri dan aku yang menggantikannya sejak 4 hari yang lalu.kamu bisa gak sih gak ngejudge yang aneh-aneh dulu?kamu tuh mikir terlalu jauh tau gak"
"Oke aku percaya.tapi tunggu,satu lagi pertanyaanku.Apa tadi kamu bilang Prof Budi ke Bandung?"
"iya Bandung,ada apa dengan Bandung?"
Entah kenapa mendengar kata-kata bandung batinku menggidik nyeri,Seingatku di kota itulah tersimpan banyak kenangan antara aku dan dia.
"Loh kok malah jadi kamu yang bengong,ayo duduk!" Lagi-lagi suarannya membuatku tersadar dari lamunanku.Kini aku dan dia duduk berhadapan,hanya meja yang menjadi pembatas.Tapi aku merasakan lututku dan lututnya bersentuhan.Entah perasaan apa ini,tapi aku merasa nyaman.Belum ada diantara kami yang membuka pecakapan,aku masih tenggelam dalam pikiran-pikiranku dan begitupun dengan dia.Sesekali mata kami bertemu dan aku seakan mengalami dejavu kejadian beberapa tahun yang lalu.
Aku seperti merasakan ada "dia" di depanku saat ini.Atau mungkin.........
"Jadi Ren,kamu mau membahas apa di skripsi akhir kamu ini?" Pertanyaannya seakan membuyarkan semua lamunanku yang berusaha mereka-reka sesuatu dalam gelapnya khayalku.
"Ren,kamu denger aku kan?"
"oh iyaiya denger kok,maaf ya aku melamun" Aku tertunduk lesu,semangat ku terasa hilang karna terhanyut oleh kenangan itu lagi,belum lagi aku sibuk mereka-reka kalau laki-laki yang ada di depanku saat ini adalah "dia" aku semakin tak tau arahnya hati ini.
"ada masalah?mau cerita dulu?aku siap dengerin kok". Kini kami semakin dekat,dia menggeserkan kursinya menjadi di dekatku,wajahnya juga sudah mulai mendekat.Aku semakin gugup,haruskah aku menceritakannya?
"Ren,gabaik kalo dipendem sendiri.Ceritain aja!" Dia benar,rasanya akan lebih mudah kalau aku membaginya dengan orang lain,mungkin jika dia menunjukan identitasnya padaku,aku akan tau kebenarannya.Tapi........
"eh iya,maa ya aku kayanya gak bisa untuk mulai diskusi hari ini,aku pergi duluan ya.Permisi". Aku benar-benar payah!menanyakan hal sesepele itu saja tidak bisa,padahal kan tinggal tanya namanya saja.Dia aja tau namaku,masa aku enggak!Tapi gak perduli deh,lain kali aja aku tanya ini ke ProfBudi,aku benar-benar tidak ingin ketemu dengan laki-laki ini lagi.Aku membereskan beberapa kertas dimeja itu lalu bangkit dan bergegas untuk keluar.Hati dan otakku mungkin memang sedang tidak satu jalan hari ini,Payah!
"Tunggu Nan,inget gelang ini?" Aku berbalik dan melihatnya yang kini berdiri di depanku.Aku mengarahkan mataku pada lengannya.Gelang itu.....
Seakan terbawa ke memory masa lalu,aku ingat saat "Dia"memberikan gelang itu padaku.Gelang yang dibuatnya sendiri,Gelang yang berwarna favorit kami.Merah dan abu-abu.Gelang itu memang terbilang biasa atau bahkan sangat biasa tapi bagiku dan dia itu adalah gelang pengikat kami.
Yang aku ingat saat itu aku sedang bersedih karna melihat orang tuaku bertengkar,aku duduk di danau dekat rumahku lalu kemudian dia datang dan menghiburku,saat itu usiaku 7 tahun dan dia 9 tahun.Dia bagai pelangi di setiap hujanku,dia selalu bisa membuat senyum dibibirku setelah air mata itu turun,dia selalu bisa membuat pandanganku menjadi kembali berwarna saat semuanya sudah terasa abu-abu.Dia malaikat penolongku dan penopangku kala itu.Ibarat orang yang hanya mempunyai satu kaki tongkat lah yang menjadi penopangnya sama seperti aku,saat aku mulai rapuh dialah yang selalu mengutuhkanku.Sekarang keyakinanku bahwa laki-laki ini adalah "dia" mulai semakin bertambah.
"Dari mana kamu punya gelang ini?kamu kenapa bisa punya gelang yang sama kaya yang aku pake ini?oh aku tau ini pasti cuma kebetulan kan?pasti banyak orang di luar sana yang punya gelang ini." Aku berpaling dari hadapannya,aku benar-benar-belum siap bertemu dengan dia dalam keadaan yang seperti ini.Kini aku harus berperang dengan air mataku yang saat itu memaksa untuk keluar,keringatku mulai turun.Hatiku seperti bom waktu yang saat ini juga terasa akan meledak.Nafasku sesak,aku tak bisa mengontrol diriku saat ini.Saat aku ingin melangkah pergi lagi dan lagi dia menghalangiku,kini tangannya menggenggam tanganku dengan erat.aku bisa mengerti kalau dia benar-benar tak inginkan aku pergi.
"Setelah 5 tahun lalu sudah pergi tanpa pamit kali ini kamu juga ingin pergi lagi?!!" 
to be continued........... 















somemtime in life if you wanna do something good, you got a do something bad first

welcome in my blog♕