Malam
itu,adalah pertemuan yang tidak sengaja antara aku dan dia.
Dalam diamku
yang shock karna kejadian beberapa menit yang lalu,aku menemukan sepasang
mata,mata yang benar-benar bisa membuat hati menjadi begitu tenang.Ya,mata itu
miliknya.
Ketakutanku hilang setelah menatap
mata yang memancarkan ketenangan itu,terlebih lagi melihat senyum itu.Senyum
tulus yang sangat manis,senyum bak milik malaikat yang pernah ku lihat dalam
mimpiku.
"kamu gak apa-apa kan?everything's gonna be
oke,jangan takut lagi ya..." Suaranya begitu merdu di
telingaku,tanpa bahasa aku hanya membalas ucapannya dengan senyuman.
"Aku pamit ya,ada urusan di tempat
lain.Hati-hati di jalan ya,aku pastikan orang-orang itu gak akan ganggu kamu
lagi kok"
Dia
pamit,sebelumnya kurasakan tangannya mengelus pipi kananku.Aku masih diam,diam
seribu bahasa.Aku berjalan menuju tempat kostku
yang hanya berjarak 1 meter lagi.Masih dalam keadaan diam kini aku terduduk di
kursi teras rumahku.
Aku masih sibuk mengingat-ingat
kejadian yang tadi menimpaku.Siapa laki-laki itu?malaikat kah dia?bak pahlawan
dalam cerita-cerita fiksi dia menghajar preman-preman yang tadi menggangguku.
Aku begitu suka menatap matanya,aku
suka menikmati senyumnya dalam diam dan terlebih lagi aku begitu suka
mendengarkan suaranya.
"Begok!tadi kenapa gak nanya namanya?bilang
makasih aja enggak!yaampun Mora,oon banget sih!!!"
Aku tersadar
dari diamku dan aku baru sadar selain tidak menanyakan namanya tadi aku juga
tidak mengucapkan "terimakasih",Kini
aku sibuk menyalahkan diriku atas ke tololan yang aku buat.Memang susah jika
kamu punya otak yang.......pelupa!
"wey!ngapain lo diem di sini?baru pulang apa
baru mau keluar?gilak!ini udah jam 10,mau jual diri lo?"
Dengan
suaranya yang lantang dan omongannya yang ceplas-ceplos Dewi datang.Dewi memang
selalu begini berbicara tanpa menggunakan kosa kata yang benar dan jelas!
Tapi seperti biasa,aku tidak
menggubris omongan Dewi teman kostku
yang sompral ini kalo ngomong,aku hanya tersenyum,sama seperti tadi saat
laki-laki itu bertanya padaku.
"Yeh ini anak ditanya malah senyum-senyum
doang.Sinting kali ya?gue masuk duluan ah,hati-hati kesambet lo bengong-bengong
malem-melem gini,hih......."
Aku memang
bukanlah anak kost yang
pemberani.jadi,begitu mendengar ucapan Dewi tadi rasa takut dan merinding
seperti langsung melingkariku,hih....memang menyeramkan suasana rumah ini kalau
sudah malam hari.
Singkat
cerita.....
Pertemuan kami tidak terjadi hanya
hari itu saja tapi beberapa kali dan dalam konsidi yang berbeda,ibarat
pahlawan,dia selalu ada saat aku butuhkan tanpa aku minta.
Aku ingat,Kala itu...
Aku berjalan dalam lemah menuju tempat
kostku,hari itu banyak sekali
aktifitasku di kampus,sebenarnya masih ada beberapa paper yang harus aku buat
tapi aku izin karna tubuhku sepetinya sangat perlu istirahat.
Hari itu sepertinya mentari sangat
semangat untuk menyinari bumi oleh karna itu aku memilih berjalan di taman agar
panas mentari kala itu tidak langsung menyengat kulitku,tapi tiba-tiba "Brukkkkk" aku
terjatuh.Beginilah aku yang ceroboh,seharipun tidak terhindar dari
kesialan.Pergelangan kaki kananku terasa sakit dan sangat nyeri.Jangankan untuk
berjalan berdiripun susah rasanya,aku rasa kakiku terkilir.Aku masih sibuk
dengan rasa sakit tak terasa air mata mengalir di pipiku.Ya,aku menangis.
"kenapa duduk disini?nangis lagi...."
Suara
itu....aku kenal suara itu dan ketika aku menengadahkan kepalaku ternyata benar
itu dia!Aku hanya bisa tersenyum lagi-lagi-lagi dan lagi ketika bertemu
dengannya.
"Jangan selalu tersenyum seperti semuanya
baik-baik saja neng,kamu selalu kayak gini kalo kita ketemu"
"Maaf ya,selalu merepotkan kamu setiap kali
kita ketemu,eh tapi ini bukan kesengajaan loh.Tapi aku bingung ya,kenapa selalu
kamu yang nolong aku?kamu malaikat kiriman Tuhan untuk aku ya??"
"hahahahahaha"
Dia tertawa
setelah mendengar pertanyaan konyolku tadi,memang konyol sih masa aku
mengiranya malaikat?duh malu deh...penyesalan memang selalu datang di akhir
ya......
"kok ketawa?aku kan cuma nanya kali"
"lagian pertanyaanmu itu aneh,masa aku
dibilang malaikat,gak salah tuh?hahahaha"
Masih dalam tawanya dia malah
menyebutku aneh.Kalau kakiku ini tidak sakit mungkin aku sudah pergi dari
tadi,Malu.
"ya terus?kamu kenapa selalu nolong
aku?"
"Semua
cuma kebetulan aja kok,aku ya kebetulan aja lewat sini terus liat kamu jatoh,ya
aku samperin lagian kan kasian di taman ini lagi sepi gak ada yang bantuin kamu
jadinya."
Kani posisinya menyamai posisiku.Dia
ada tepat di depanku.Sekarangtidak ada jarak diantara kami.Aku bisa melihat
matanya,hidungnya,rambutnya,wajahnya dari dekat,bahkan wangi tubuhnya sangat
tercium.Dari wanginya aku bisa menebak kalau dia adalah laki-laki yang rapih.
"Aku gak akan jahat kok,jangan liatin aku
seakan-akan aku ini mau culik kamu dong"
Rupanya sedari tadi pemilik wajah yang
sedang menjadi obyek mataku ini sadar kalau wajahnya sedang aku amati,tapi dia
salah.Aku menatapnya penuh kebahagiaan bukan kecurigaan.
"Jadi,apa
yang sakit nona manis?"
Mendengarnya yang memanggilku "non
manis" tadi rasanya semua kebahagiaan yang tadinya semu menjadi nyata.Aku
ikhlas tertiban sial setiap harinya asal selalu dia yang menolongku,aku rela
selalu dibuat malu olehnya kalau dia juga yang bisa membangun kebahagiaan
untukku.
"Eh maaf
bengong lagi.Ini kaki aku pergelangannya sakit banget,kayaknya terkilir
deh.Gara-gara wedges sialan ini nih.Aku selalu sial deh menggunakan sepatu
ini.Bad day!"
Sejujurnya ini
tidak terlalu Bad-day untukku karna
dengan bertemu dengan dia,semua terasa membaik.Dalam diamku aku berdoa semoga
kamu benar-benar berada di setiap hariku.Semoga suasana hatiku yang riang ini
bukan hanya untuk hari ini.
"Coba
pindah duduk di kursi itu yu,kalo duduk disini gak enak.nanti baju kamu
kotor,aku juga capek jongkok"
Aku hanya
tersenyum,dia membantuku untuk berdiri.Tangan kanannya melingkar di pinggangku
dan tangan kirinya memegang tanganku.Kami begitu dekat bahkan desah napasnya
dapat aku rasakan,tangannya sangat hangat.Aku berharap waktu bisa berhenti
sekarang juga atau berdetak lebih pelan agar aku bisa lebih lama berada dalam
genggamannya dan pelukannya!.
"Sini
duduk!awas pelan-pelan,coba sini aku pijet ya kakiknya"
"eh yaampun gak usah,ini paling dilurusin aja
juga bisa normal lg kok,gak usah repot-repot"
"Bentar
lagi normal gimana?itu aja bengkak!aku liat dulu ya."
Aku sudah menahannya tapi ini adalah
inginnya.
"oiya aku
kasih tau nih ya,sial itu gak ada!mungkin kamunya aja yang kurang
hati-hati.Terus jangan pernah bilang hari itu buruk,karna sebenarnya semua hari
itu baik.Kamu ini kaya abg labil ajadeh.....makanya kalo keluar rumah tuh baca
bismillah dulu ya"
Mendengar
penjelasannya tadi sepertinya rasa kagumku padanya semakin bertambah.Ternyata
selain baik dia juga bijak terlebih lagi parasnya yang menawan.Ketampanannya
menurutku lebih dari laki-laki lain.Berbahagialah wanita yang berjodoh
dengannya nanti dan aku berdoa pada Tuhan semoga wanita yang beruntung itu
adalah aku.
"Kamu
kenapa senyum-senyum sendiri kayak gitu?mikirin apa hayoooo?mikirin berjodoh
sama aku yaaaaa?"
Ternyata bukan
hanya aku yang suka memperhatikannya,dia juga.Sudah 2 kali aku tertangkap basah
ketika sedang senyum-senyum memperhatikannya.Dan yang lebih membuat pipiku
menjadi meerah padam dia tau kalau aku memikirkan aku&dia yang saling
berjodoh.hihihihihi.
"Ah siapa yang senyum-senyum orang aku lagi
nahan sakit kaki aku ini ko,wuuuu"
"ih ko
melet-melet gitu sih,lucu deh kayak anak kecil deh kamu.Walaupun lagi nahan
sakit senyum kamu manis juga ya ternyata."
Oh my God.Aku kini
serasa sudah terbang entah kemana mendengar ucapannya tadi.Rasanya kaki ini
sudah tak memijak bumi,inginku meraih tanggannya dan mengajaknya terbang
berasamaku keawan.Sungguh perasaan yang membahagiakan!
"oh iya,udah sore nih.Mau aku antar
pulang?" tanyanya.
"Gak usah,ini aja udah ngerepotin banget.Kaku
aku juga udah lebih enakan kok,lagian kostan aku deket ko,cuma 2 blok lagi dari
sini."
"yakin nih?"
"yakin!kamu ini kayak babysiter aku aja deh
hahaha"
"yeh aku
kan cuma khawatir aja,aku kan orang terakhir yang ketemu kamu hari ini nanti
kalo tiba-tiba dijalan kamu kenapa-kenapa mereka nyalahin aku gimana?"
"pikiranmu terlalu jauh,yaudah aku duluan
ya"
"yaudah hati-hati ya"
Aku mencoba berdiri
namun kakiku belum mampu,dia yang masih disampingku dengan sigap langsung
menangkap tubuhku.Kejadian yang sama terjadi lagi,dia meraih tanganku dan
melilitkan tangan yang satunya di pinggangku.Ini bukanlah caraku untuk terus
berdekatan dengannya,hanya saja kakiku memang masih sulit untuk digerakan
apalagi untuk menopang tubuhku.
"Tuhkan,kaki
kamu tuh gak baik-baik aja.udah gausah ngeyel,aku antar pulang ya!ini perintah
bukan pertanyaan"
Aku tertunduk lemah,lagi-lagi air
mataku meluncur mulus dipipiku.
"Jangan
nangis,aku ikhlas kok nganter kamu gak ngerasa di repotin,suer deh!Tenang aja
aku gak minta imbalan apapun kok atau aku gak bakal bawa kamu kemana-mana
kok,aku parkir mobilku disana,agak jauh sih.mau naik mobil aja atau aku
gendong?aku gendong ajadeh ya biar lebih cepet." Belum ku jawab
pertanyaannya dia langsung jongkok membelakangiku dan menyuruhku naik di
pundaknya.
"Ta...tapi..."
"Udah ayo naik,nanti hari keburu gelao nih
kalo nungguin kamu mikir dulu"
"bener nih?aku berat loh,gausah deh"
"tenang aja aku kuat kok"
Kini aku
berada dalam gendongannya.Ini manis,kita yang bahkan belum tau nama
masing-masing menjadi sedekat ini.
Memang benar,cinta datang bisa dimana
saja tanpa alasan dan pada siapa saja,termasuk padaku.Kami sangat dekat.Aku
bahkan bisa merasakan degupan jantungnya.Tapi aneh,suaranya agak sedikit
lemah.Mungkin dia sedikit lelah karna menggendongku.Ku lihat keringat menetes
di keningnya,aku ingat aku punya tissu di kantong ku,sebagai sedikit balas budi
kuhapuskan keringatnya.Dia tersenyum,meskipun aku tidak melihatnya dari depan
tapi aku tau senyumnya masih semanis dan seindah senyum yang pernah aku lihat
sebelum-sebelumnya.
Banyak
pembahasan yang tercipta diatara aku dan dia.Begitu nyaman rasanya ada di
dekatnya,emndengar suaranya,melihat senyumnya.Aku semakin ingin takdirnya dan
takdirku dipertemukan oleh Tuhan dan di ikat untuk selama-lamanya.
"Itu tempat kostku,rumah yang warna pink itu
ya"
Now,masih dalam gelak tawa aku dan dia
sudah sampai di depan pintu kostku.Aku dan dia duduk di kursi teras.
"Ternyata ngobrol sama kamu seru ya,cerewet
dan gak mau kalah"
"iya kamu juga,sok tau lagi!"
kami tertawa lagi.Sore ini kebahagiaan
memang ada dipihakku.
"makasih ya". Aku tersenyum
kepadanya,menunjukan senyumku yang paling manis pertanda bahwa aku benar-benar
bahagia berasamanya sore ini.
"Makasih untuk apa?"
"Untuk
semuanya.Dari awal waktu kamu nolongin aku dari preman-preman itu,untuk
menolongku setiap kali kita tidak sengaja bertemu dan untuk sore yang
menyenangkan ini"
"Sudah kewajiban kita sebagai manusia saling
menolong bukan?Santai ajaaa"
Dia mengelus
lembut rambutku dan tersenyum lagi.Kali ini aku yakin ini senyumnya yang
termanis!aku tau dia sama bahagiaanya sepertiku sore ini.
"Oiya,kita sering ketemu tapi kenapa kita gak
pernah kenalan?aku pandji,kamu?"
"oiya ya kita belum pernah kenalan,abis
ngobrol sama kamu kayak udah kenal lama sih hehehe aku amoralia"
"amoralia?sounds good.Artinya cintakan?"
Dia mengulurkan tangannya dan aku juga
menyambut jabat tanggannya itu.
"iya,Amor itu artinya cinta.Sekali lagi makasih
ya untuk semua-mua-muanya"
"Sama-sama,yaudah udah sore nih aku pulang
dulu ya mora"
"Eh tunggu dulu,boleh aku mina nomer telon
kamu?ya siapa tau aku lagi bete dan butuh temen ngobrol jadi aku bisa contact
kamu gitu,boleh?"
"boleh banget hehe nih handphoneku,kamu save
sendiri aja ya"
"oke,kamu tulis nomer kamu di buku ini aja
ya,handphone aku mati soalnya.aku tulis namaku disini 'amora cantik' ya
hehehehe" Aku menyeringai sedikit.
Setelah
bertukar nomer handphone kamu saling menjabat tangan.Tangannya begitu kuat dan
masih tetap hangat.Mata kami juga bertatapan untuk sepersekian detik.Hati
kecilku berbisik inilah cinta pandangan pertama.Cinta yang pertama kali aku
rasakan~
Pandji pamit pulang dan aku juga masuk
ke dalam kamarku untuk mengistirahatkan tubuhku.
Dua hari telah
berlalu,Takdir seakan bermain-main dengan kita.Setelah pertemuan itu kita tak
pernah lagi bertemu.Dia juga belum menghubungi aku,akhinya ku beranikan diriku
untuk menghubunginya karna pada waktu itu juga aku yang meminta nomer handphonenya.
Dalam pesan singkat itu ku tuliskan
sore itu aku menunggunya di taman tempat pertama kali takdir mempertemuka kita.
Sore itu aku
menunggu...mununggu..menunggu dan menunggu...tapi dia tidak datang.
Aku penasaran
pada sosoknya dan kenapa dia menghilang begitu saja.Tapi aku bingung kemana aku
harus mencarinya.
Karna merasa aku hanya akan mendapat
jalan buntu jika melanjutkan ini semua,kuputuskan untuk berhenti mencari tahu
tentang dia sebelum perasaan ini semakin jauh dan sebelum kekecewaan melanda
hatiku.
Aku hanya tidak ingin mendapatkan hal
yang abu-abu.Ku coba menghapus nomer handphonennya
dari handphoneku,ku coba lupakan
pertemua-pertemuan kita yang begitu singkat itu,ku coba lupakan senyumnya,tatapannya,suaranya
bahkan aroma tubuhnya yang sudah sangat aku khafal.
Aku berjanji akan melanjutkan hidupku
seperti saat dulu sebelum bertemu dengan dia,harusnya aku memang tidak boleh
teruru-buru menyebut ini cinta.
Pertemuan kita yang singkat mugkin
memang hanyalah permainan takdir.Dan bukankah memang sudah seharusnya setiap
ada pertemuan akan ada perpisahan?jadi,apa yang harus manusia risaukan?tapi
apakah ini bisa di katakan perpisahan jika sebelumnya saja dia tidak
mengucapkan selamat tinggal?
Memang
harusnya ini akan menjadi mudah.Karna kita belum saling mengenal terlalu
jauh.Tapi....rasa penasaranku padanyatidak pernah padam sedikitpun sampai detik
ini!
Ini sudah hari
ke-7 rasa penasaranku terus memanas padamu dan tepat hari ke-7 juga sejak
pertemuan terakhir itu.
Aku sibuk
menerka-nerka tentang kamu,dadaku mulai sesak,otakku buntu,aku benar-benar
merasa tebunuh dengan hilangnya kamu.
"heh!bengong mulu,ada sms tuh di hp lo"
Dewi yang
sedang ada di kamaku rupanya merasa terganggu telingannya oleh ponselku yang
sedari tadi menjerit.Ku raih ponselku dengan lemah,terpampang disana ada 4 sms
yang masuk.ku perhatikan dari pengirim pertama sampai yang terakhir,betapa
kagetnya aku melihat pengirim pesan ini.Nomer yang sebenarnya sudah aku hapus
dari contacs tapi tidak dari memory otakku.Ada
sedikit keraguan dalam hatiku akhirnya aku mengecek nomer itu di buku
harianku.Aku ingat hari itu handphoneku mati jadi kamu menulisnya di buku
ini.Dan ternyata benar itu nomer kamu!Sudah di kejutkan melihat nomer itu aku
lebih terkejut lagi membaca isinya.
-081234567-
Assalamualaikum wr.wb.Maaf baru
membalas pesan ini setelah 7 hari.Nomer ini sudah tidak digunakan lagi oleh
pandji melainkan oleh kakaknya.7 hari yang lalu pandji terkena serangan jantung
dan mengalami kecelakaan.Tolong bantu doa agar pandji tenang disana
ya,Terimakasih.Wassalamualaikum
Seketika
tubuhku lemas,mataku tak jelas melihat apapun,aku merasakan tubuhku
terjatuh,aku pingsan...
Dalam ketidak
sadaranku,aku bertemu Pandji.Dia begitu tampan dengan jas putih dan celana
putih itu,ada dua anak kecil yang sangat cantik dan lucu disampinnya,mereka
terus menarik tangan Pandji kedalam ruangan putih penuh cahaya yang tak sama sekali
ku mengerti.aku ingin sekali menyusul pandji dan anak-anak itu kesana.aku ingin
ikut pandji tapi entah kenapa kakiku terasa sulit untuk melangkah.
Kulihat pandji berjalan kearahku dan
tersenyum kepadaku,aku menyambutnya dengan senyumku pula.Senyum penuh kelegaan
akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan dia.
Dia meraih tanganku dan
memelukku,pelukan yang sangat hangat.Aku larut dalam peluknya,aku menangis.Aku
sungguh takut kalau ini adalah cara pandji untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Ndji,jangan pergi" ucapku masih
dalam mata yang penuh dengan air mata.
"Maaf mora,maaf hanya bisa menciptakan sebuah
pertemuan singkat yang sangat sederhana,saat kamu menunggu aku ditaman itu
sebenarnya aku datang,aku duduk di sampingmu,tidur dalam pangkuanmu dan terus
memelukmu tapi kamu tidak bisa merasakan kehadiranku karna aku sudah bukan lagi
pandji yang dapat kamu lihat.Mora,kamu harus tau sebenarnya semua pertemuan itu
bukanlah sebuah ketidak sengajaan,kita adalah teman satu kampus dan sering kali
satu kelas.tapi mungkin kamu jarang melihat aku,Aku sudah mencintaimu sejak
lama tapi aku lebh memilih mencintaimu dalam diam Mora.Aku selalu mengikutimu
kemanapun kamu pergi karna itu setiap kamu ceroboh aku yang selalu
menolongmu,untuk pertemuan nyata kita yang terakhir itu aku benar-benar
bersyukur pada tuhan akhirnya dia mengizinkanku untuk dekat denganmu sebagai
yang pertama sekaligus yang terakhir.Mora kamu harus tetap menjalani hidupmu
seperti dulu,jangan menjadi mora yang cerboh lagi karna sudah tidak ada pandji
yang akan selalu menjadi malaikat penolongnya.Anggap pertemuan singkat itu
tidak pernah terjadi Mora,kamu hanya perlu menyimpannya bukan meratapinya.Aku
menyayangimu Mora."
"Ndji jangan pergi ndji,Aku belum mengenal
kamu lebih jauh,aku butuh kamu ndji"
"Datanglah kerumahku Mora akan ada benda yang
menjadi aku untukmu"
"Kenapa kamu gak pernah mau muncul di depan
aku dulu?kenapa baru sekarang??"
"Sudah takdir&jalannya seperti ini
Mora.percayalah akan ada orang lain yang bisa membahagiakan kamu lebih dari aku
nanti,setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan tapi jangan lupa juga dari
setiap perpisahan akan ada pertemuan yang lebih membahagiakan"
"Tapi ini serius!aku cuma mau kamu
ndji!" Aku semakin erat memeluknya.Sungguh tak rela dia benar-benar
pergi.
"Waktuku sudah habis Mora,aku harus
pergi,tetap masih ada mentari di hidupmu dan akan selalu ada pelangi si setiap
hujanmu,lihatlah bulan di malam hari jika kamu merindukan aku.Jalani hidupmu
seperti sebelum mengenalku dulu Mora,selamat tinggal.Aku
mencintaimu."
Pandji
mengecup keningku lalu berjalan pergi bersama anak-anak itu.Pandji benar-benar
pergi bahkan sebelum aku mengenalnya.Sebelum Pandji benar-benar pergi
menghilang dari pandanganku dia masih menatapku dan menyimpulkan senyum
manisnya,senyum manis yang akan selalu aku kenang dan aku rindukan.Tidak akan
ada lagi senyum darinya untukku.
Sesaat
kemudian aku tersadar,kulihat teman-temanku melihatku dengan khawatir mereka
terus bertanya apa yang terjadi padaku tapi aku tidak bisa berkata apapun.Aku
hanya bisa menangis.
Rasanya ingin sekali berteriak,kenapa
Pandji harus pergi secepat itu?dan kalau akhirnya seperti ini,kenapa takdir
mempertemukan aku dan pandji?dan kenapa justru cinta ini semakin kuat setelah
dia pergi??
Hanya air mata
yang saat ini benar-benar berbicara tentang seberapa hancurnya aku
sekarang.Kejadian ini benar-benar tak pernah ada dalam benakku sebelumnya,aku
tak pernah mengira ada orang yang mencintaiku dalam diam,bahkan sampai akhir
hidupnya.
Esok harinya
aku datang kerumah pandji,mungkin dengan cerita dari keluarganya tembok
penyesalan dan rasa bersalah yang sudah terbangun tinggi dihatiku ini bisa
runtuh.
Setibanya disana tak kusangka mereka
telah mengenalku dan malah telah menungguku datang.Ibunya tak kuasa menahan air
mata saat bertemu denganku,begitu juga dengan keluarganya yang lain.Dari yang
ku dengar,ternyata pandji telah lama menyukaiku sejak ospek,itu berarti 2,5
tahun yang lalu.Setiap acara keluarga pandji selalu bercerita tentang
aku,tentang dia yang mencintaiku dalam diam dan memperhatikan setiap detail diriku.
Pandji hafal
semua tentang aku,aku yang setiap hari senang memakai baju warna biru,aku yang
lebih senang berjalan kaki ketimbang naik kendaraan,aku yang lebih suka
ketenangan,aku yang selalu memakai gelang keberuntungan dari alm.Ibuku dan juga aku yang selalu makan
Indomie tanpa kuah di kantin kampus.Pandji tau semua tentangku.
Kakaknya
mengajakku masuk kedalam kamar pandji.Kamar yang bersih,rapi dan penuh dengan
wangi pandji.Kulihat dalam lemarinya,disana banyak tersimpan fotoku.Sekarang
air mataku semakin berlinang.Kenapa ada orang yang mencintaiku tapi aku tak
pernah sadar?ini penyesalan terbesarku.
"Pandji teramat mencintaimu Mora,dia bahkan
rela melakukan dan mengorbankan apapun hanya untuk kamu" ucap kakak
pandji yang sekarang juga sama sepertiku,menangis.
"Kenapa pandji baru muncul belakangan ini
ka?"
"Mungkin karna dia tau waktunya akan segera
habis Mora,jadi dia memberanikan dirinya menemuimu,ini....beberapa foto pandji
dan kamu yang kakak ambil dari jauh.Kebetulan saat di taman itu pandji meminta
kakak untuk menemaninya,tapi bodohnya kakak adalah meninggalkannya dan
membiarkannya menyetir mobil sendiri sehingga kecelakaan melandanya.sebelumnya
pandji memang tidak pernah bepergian sendiri."
Tangis kakak
pandji pun mulai pecah.Di hadapanku dia menceritakan beberapa hal tentang
Pandji sebelum kepergiannya.Aku semakin merasa bersalah pada pandji,aku
menyesal kala itu meng-iyakan pandji untu menggendongku.Harusnya aku sadar saat
mendengar detak jantung pandji yang tidak seperti orang normal biasanya.
"sejak kapan pandji punya penyakit itu
kak?"
"Sejak dia lahir Mora,penyakitnya adalah
keturunan dari ayahnya. "
Aku dan kakak pandji terdiam......
"jadi mora,sudah siapkah untuk
kemakam?"
"Boleh aku minta waku sebentar lagi kak?aku
mau sendiri disini"
"tentu,jangan terlalu diratapi ya.Pandji
pasti tidak akan senang melihat kamu menangisi kepergiannya"
Kakak pandji
keluar.Kini aku sendiri diruangan pandji.Ruang yang di setiap sudutnya pasti
pandji pernah tempati.Ruangan tempat pandji berisitirahat,ruangan tempat pandji
belajar dan ruangan tempat pandji banyak menyimpan semua tentang aku.
Bagaimana bisa dia mengetahui semua tentangku,tapi
aku?mengenalnya saja baru akhir-akhir ini.Rasanya kesal juga menyesal.Kenapa
pandji tak pernah menampakan wujudnya dari dulu?kenapa ndji?!!takutkah kamu aku
menolak orang sebaik kamu?Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur,wangi ini sangat
khas.iya,wangi pandji.
"Aku harap kamu disini Ndji.Aku masih ingin
melihat dunia yang berwarna-warni ini bersama kamu.Aku belum ikhlas kamu
pergi..............."
****
Here we go.Aku sudah memijakan kaki di Tpu kebon
jeruk.Debar jantungku semakin tak menentu.Yang aku ingin melihat pandji bukan
hanya batu bertuliskan namanya atau tanah yang telah menimbun dirinya.Tapi
hanya ini yang bisa aku lakukan sebagai tanda penghormatan dan tanda cintaku
padanya.
Ditemani kakaknya,kini
aku telah ada di makam Pandji.Di depanku benar-benar ada batu nisan dengan nama
Pria yang aku harapkan adalah jodohku.
Seketika tubuhku lemas,aku terduduk
tepat di depan rumah baru pandji.Rumah yang sebenar-benarnya rumahnya.
"Ndji aku gak tau harus dengan apalagi
meminta maaf dan berterimakasih sama kamu,pada kehadiran kamu yang meruba
segalanya.Ndji sebenarnya tentang kamu,semua masih terlalu abu-abu untukku.Masih
banyak tanda tanya yang ada di dalam hatiku tentang kamu dan entah darimana
ndji aku bisa mendapatkan semua jawaban atas pertanyaanku ini,Tapi ndji aku
sudah ikhlas sekarang kamu pergi.Aku janji tidak akan jadi Mora yang ceroboh
dan akan selalu tersenyum.Ndji aku sayang kamu dan aku tau kamu dengar aku dari
sana.”
Aku menaburkan
bunga di pusaran pandji,aku tidak menangis karna aku tau pandji akan
melihatnya.Sekuat tenagaku aku menahannya.Aku tidak mau menyakiti pandji lagi.
"Mora ini titipan dari pandji.Seperti tau
kalau semua ini akan terjadi pandji telah menuliskan semua tentang dirinya
disini.Mungkin tentang pertanyaan-pertanyaan kamu yang belum terjawab semuanya
akan ada disini.Ingat Mora adikku sangat menyayangimu.”
Yap,pertemuan
yang sangat singkat ini benar-benar merubah segalanya.Kini aku benar-benar
harus melangkah melanjutkan hidupku tanpa pandji.
Tentang semua
pertanyaan itu, kakaknya mungkin benar.Aku akan menemukan jawabannya dari buku
ini.Buku yang akan selalu aku simpan.
Sekilas aku
teringat kembali pada pertemuan nyataku dengan pandji yang terakhir itu,sebelum
pulang pandji menjabat tanganku dengan sangat hangat.Mungkin,jabatan tangganya
yang terahir itu adalah caranya mengucapkan selamat tinggal.
Pandji memang
malaikat perubah hidupku.
Dan kini aku
semakin sadar,allah maha kuasa dia yang mengatur semua yang terjadi di bumi ini
dan di hidup umatnya.Hanya tuhan yang tau kapan manusia itu lahir,bagaimana
perjalan hidupnya,apa saja tugasnya,dengan siapa dia bertemu&berjodoh dan
kapan waktunya untuk pulang.
Selamat jalan
ya Ndji.
Semoga di
kehidupan lain,kita bisa di persatukan.
Takdirmu
mengikat takdirku selamanya......
Amora......